Mengenal Program Telepon Pedesaan Telkomsel di DIJ (bagian-1)

22Jun10

Penting Saat Kepepet, Lebih Banyak Untuk Koordinasi

Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) merupakan salah satu provinsi yang mendapat program telepon pedesaan dari pemerintah. Sebagai pemenang tender program telepon pedesaan adalah Telkomsel. Program telepon pedesaan ini sudah tersebar di beberapa kabupaten, di antaranya Sleman dan Gunungkidul. Berikut gambaran pentingnya program ini bagi masyarakat.

Heru Setiyaka

Muslimin, tengah sibuk menggunakan telepon yang terletak di depan pintu ruangan Kepala Bagian Pembangunan Desa Bokoharjo. Usai menelpon, kepada Radar Jogja, Muslimin menceritakan bahwa dirinya baru saja menelpon saudaranya untuk mengirimkan beberapa persyaratan yang tertinggal di rumahnya.

“Kebetulan pulsa ponsel yang saya bawa ini habis dan belum diisi. Untungnya, di saat kepepet seperti ini di Kantor Desa Bokoharjo ada telepon yang bisa dimanfaatkan,” kata Muslimin sambil menunjukkan ponselnya. Pengalaman seperti ini memang menjadi bagian dari pentingnya keberadaan program telepon pedesaan dari pemerintah yang pelaksanaanya oleh Telkomsel.

Kabag Pembangunan Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman Giarto mengatakan, keberadaan telepon bantuan tersebut sudah ada sejak 2009, tepatnya bulan Oktober. “Masuk di desa kami Oktober tahun 2009. Telepon itu ditempatkan di kantor desa agar aman dari tangan-tangan jahil. Ada tempat tersendiri yaitu di Pusyantip atau Pusat Pelayanan Telekomunikasi dan Informasi Pedesaan,” jelas Giarto, ketika ditemui di Balai Desa Bokoharjo, beberapa waktu.

Dia mengakui bahwa pihaknya belum banyak melakukan sosialisasi telepon desa ini. Meski demikian, sebagian masyarakat sudah mengetahuinya. Menurutnya, adanya telepon pedesaan sangat berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat, khususnya pada kasus seperti yang dialamai oleh Muslimin tersebut.

“Banyak masyarakat yang bisa memanfaatkan entah kepepet atau tidak,” ujarnya. Sebagian lagi, pentingnya alat komunikasi itu dipakai oleh aparat kelurahan untuk berkoordinasi dengan pihak kecamatan atau kabupaten. “Saling berkoordinasi mengenai berbagai masalah, termasuk salah satunya koordinasi dalam lomba desa yang kebetulan desa ini diikutkan dalam lomba desa tingkat provinsi,” papar Giarto.

Kebetulan sekali, desa yang berpenduduk 10.521 orang ini merupakan wilayah yang banyak objek wisata candinya. Adanya telepon pedesaan ini, bisa dimaksimalkan untuk mendukung pariwisata di daerah yang mempunyai batas dengan Desa Tamanmartani, Madurejo dan Pereng, Prambanan ini.

Hal yang sama terjadi di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman. Kepala Desa Sambirejo Sukirman mengungkapkan bahwa di desanya juga ditempatkan telepon pededesaan. “Telepon pedesaan ditempatkan di kantor kelurahan dan dijaga oleh satu penjaga khusus, yakni Sahono,” kata Sukirman.

Di desa yang ada di lereng bukit ini sangat membutuhkan alat komunikasi. Sebagian masyarakat yang didominasi oleh buruh pengolahan batu ini memang sudah memiliki ponsel sendiri. Tetapi banyak dari masyarakat yang belum punya dan membutuhkan alat komunikasi telepon.

Di sisi lain, pria yang juga menjadi pengusaha pengolahan batu ini merasakan kehadiran telepon pedesaan ini sangat membantu perekonomian masyarakat. Setidaknya, dengan adanya telepon pedesaan itu, sebagian masyarakat bisa memanfaatkan walaupun harus mengikuti jadwal jam buka kantor desa.

“Bantuan pulsa Rp 100 ribu sudah bisa dipakai bareng-bareng. Masyarakat yang datang kelurahan bisa memakai saat kepepet. Khusus pegawai kantor kelurahan bisa dipakai saat berkoordinasi dengan pihak kabupaten atau kecamatan,” tandas Sukirman.

Basuki, penjaga keamanan Candi Ijo di Desa Sambirejo berharap adanya sosialisasi kepada warga agar mereka bisa memaksimalkan adanya telepon pedesaan tersebut. “Harus ditempatkan yang strategis, seperti dekat di objek wisata Candi Ijo ini, para pengunjung bisa memanfaatkan, meskipun harus ditarik ongkos yang sesuai,” ungkap Basuki.

Lebih maju lagi dilakukan oleh dua desa di Kecamatan Gedangsari, yakni Serut dan Watugajah. Dua desa yang berbatasan dengan Wedi Klaten ini sudah melakukan sosialisasi. Bahkan masyarakat sudah banyak yang memanfaatkan telepon pedesaan tersebut. Desa Watugajah berpenduduk 52.164 orang dan Serut sebanyak 5.338 orang. Keduanya merupakan desa yang menyimpan banyak potensi alam.

“Potensi alam bahan galian C yang ada di semua desa. Sedangkan di desa kami, Watugajah adalah wisata argo yang dikembangkan,” kata Subirman lewat selulernya.

Adanya telepon pedesaan ini bisa menjadi pelengkap fasilitas wisata yang ada. Sebagai contoh saat ini, setiap bulannya pulsa yang disediakan Rp 100 ribu sering tidak cukup untuk dimanfaatkan masyarakat pedesaan.

“Mereka bisa memakai selama 24 jam. Karena saat pulang dari kantor, telepon ini kami bawa pulang agar bisa dimaksimalkan,” jelas Subirman yang mengepalai 5 dusun, 5 RT dan 43 RW ini.

Untuk Desa Serut, masih di Kecamatan Gedangsari, pola penggunaan telepon pedesaan hampir serupa. Desa yang mempunyai kerajinan makanan, mebel dan pertanian ini ini menyambut baik kehadiran telepon pedesaan.

“Harapan kami, tidak hanya ada satu di balai desa saja. Tetapi ada di setiap dusun di wilayah kami sehingga benar-bener bermanfaat bagi warga. Sebagai alat berkoordinasi sekaligus membantu komunikasi saat berbisnis masyarakat,” kata Kepala Desa Serut Gedangsari R Suyanto. (bersambung)

sumber : radarjogja.co.id



No Responses Yet to “Mengenal Program Telepon Pedesaan Telkomsel di DIJ (bagian-1)”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: